Apakah doaku sesuai kehendak Allah?

Cepen Karya: Purwanti

Langkah kecilnya menyusuri jalan setapak di pinggiran sawah. Dia melewati hamparan daun padi yang masih hijau. Jika padi itu telah menguning maka seperti taburan emas. Dia tampak ceria dengan memakai hijab berwarna biru tua yang sesekali tertiup angin sore. Sinar senja seperti tidak pernah membuatnya bosan. Selama beberapa hari di desa tempat kelahirannya ini, Dia selalu menyempatkan datang kesini melihat matahari terbenam. Dia adalah Ana. Entah apa yang membuatnya bahagia? Mungkin goresan warna senja yang berpedar di langit,membuat dia tak henti-hentinya mengucap syukur. 

Dia duduk di sebuah batu dan ketika memejamkan mata terdengar suara burung berkicau,gemericik air sungai,suara bambu yang saling bertabrakan karena tertiup angin. Tempat ini seperti lukisannya waktu masih berada di sekolah TK dahulu, sebuah gunung dengan pohonnya yang tinggi dan lebat karena belum tersentuh oleh tangan-tangan jahil manusia, sungai yang masih jernih,disekitarnya terdapat sawah milik petani. Ini adalah hari terakhir dia berada di desa ini, besuk Dia sudah harus pergi ke Jakarta karena Dia diterima di salah satu universitas di Jakarta. 

Saat matahari meredupkan sinarnya perlahan menjadi moment yang menakjubkan dan menandakan bahwa alam semesta ini ada yang mengaturnya. Semua apa yang ada di bumi ini bergerak sesuai kehendak-Nya. Kehendak Sang Maha Kuasa pemilik alam semesta. Dia menerbitkan senyum terindahnya sambil mengabadikan moment senja yang selalu dia rindukan. Yang dulu selalu dia rindukan dan sekarang dia datang dengan rindu yang sama.

Meski pernah beberapa waktu dia tidak ingin melihat senja karena suatu kejadian di waktu senja yang membuatnya putus asa dan seperti tidak mensyukuri apa yang telah menjadi takdirnya. Memory itu terekam kembali dalam fikirannya,dimana saat dia meminta izin kepada Ayahnya untuk bisa melanjutkan kuliah,namun Ayahnya menolak karena alasan biaya. Dengan keadaan marah,kecewa dia mengambil keputusan untuk tidak kuliah dan ingin bekerja di sebuah pabrik. Ketika meminta izin kepada kedua orang tuanya,lagi-lagi tidak diizinkan alasannya yaitu selama ini mereka telah menjaganya dengan baik. Sementara jika nanti kerja di pabrik berarti harus kos dan yang dikhawatirkan adalah bagaimana pergaulannya diluar tanpa pengawasan dari mereka. Beberapa hari berlalu belum ada tujuan yang pasti. 

Disaat makan malam Ayahnya membuka percakapan, karena memang beberapa hari ini Ana lebih banyak diam.

“An,boleh Ayah mengusulkan suatu pendapat?”

“Ada apa,Yah?”

“Ayah sama Ibumu lebih ridho jika kamu bekerja di Jogja di tempat Masmu,disana kerjanya tidak berat,kamu hanya disuruh jaga warung makan.”

“Tapi Yah,Ana kan pengennya kerja di Solo. Ana tinggal sama temen Ana kok,Ana sudah besar,sudah bisa jaga diri.kalau kerja ikut sodara itu tidak enak. Bagaimana jika nanti terjadi

sesuatu,hubungan persaudaraan bisa rusak.”

“Kamu tu ya jangan su’udzhon dulu. Dia akan ngasih kamu gaji yang lumayan. Lagi pula nanti kamu tinggal di rumahnya, tidak usah ngekos. Makan sama keperluan kamu tidak usah dipikirkan,uang gaji bisa kamu tabung. Ayah sudah bilang sama Mas dan Mbakmu untuk jagain kamu.”

“Terserah Ayah aja.”

Keesokan harinya walaupun dengan setengah hati akhirnya Ana pergi juga ke Jogja. Selama perjalanan tak henti-hentinya Dia menangis,sebenarnya Dia ingin memberontak untuk tidak mengikuti saran dari Ayahnya,namun ketika Ayahnya bilang bahwa jika tetap mengambil keputusan untuk pergi ke Solo dan bekerja di pabrik,Ayahnya tidak ingin bertanggung jawab apabila terjadi sesuatu. Hal itu yang membuat Ana ragu dan akhirnya mengambil keputusan yang tidak sesui dengan keinginan hatinya. Hari-hari telah dia lewati,awalnya berat karena keputusan yang setengah hati.

Namun saudara dan teman-temannya memperlakukannya seperti keluarga,saling menyayangi,saling mendukung. Akhirnya Ana bisa betah berada di Jogja. Disaat Dia telah bisa berdamai dengan keadaan ada hal lain yang mengusik ketenangan hatinya. Ana bertemu dengan Sovi teman sekolahnya. Sovi mengajak Ana untuk ikut mendaftar kuliah disalah satu universitas di Jogja. Karena memang selama ini Ana sangat ingin bisa kuliah di Jogja. Ketika itu Dia seperti mendapatkan harapan baru, kebahagiaan terpancar dari matanya dan senyumnya yang ramah. Setelah pulang kerja Ana mencoba menelepon Ibunya,Dia ingin meminta izin untuk bisa melanjutkan kuliah. Bukannya mendapatkan izin, yang Ana dapatkan adalah nasehat panjang yang intinya belum ada izin untuk kuliah.

Namun keinginanya terus menggedor pintu di ruang hati. Ruang yang medapat pagar baru lebih tinggi dan sempit untuk cakrawala penglihatannya. Sebenarnya Ana telah berdoa,bahkan sering shalat malam. Dia mencoba untuk pasrah,namun jika apa yang terjadi tidak sesuai dengan keinginannya,Dia kecewa dan otaknya terus berfikir untuk mencari cara bagaimana agar apa yang diinginkan tercapai. Dia tidak menunjukkan kepasrahan total kepada Allah maka timbullah masalah-masalah baru yang mewarnai hidupnya. Ana seharusnya sadar bahwa Dia hanyalah manusia. Dia memang bisa berusaha dan berdoa. Namun hanya Allahlah yang Maha Berkehendak,sebenarnya Ana sendiri tidak tahu apa yang terbaik untuk dirinya. Dia hanya mengikuti ego dan intuisinya.

Dia tidak berusaha memperbaiki hubungannya dengan Allah,namun disetiap doanya seperti menuntut sesuatu agar apa yang diinginkan didapat dengan segera.Allah tidak akan memberikan apa yang kita inginkan namun apa yang telah Allah takdirkan untuk kita adalah yang terbaik. Allah tidak akan menguji hambanya diluar batas kemampuannya.

Namun tidak dengan Ana meski tanpa restu dari orang tuanya Dia tetap mendaftar di universitas lain,bukan ditempat Sovi kuliah,dan dia mengambil kuliah malam. Dia ingin membiayai kuliahnya sendiri tanpa sepengetahuan orang tuanya. Pada saat dititik itu Ana melewatinya tidak dengan jalan yang mudah. Ada saja hal yang menghalangi. Awalnya Ana mau pergi ke kampus naik motor karena memang tidak ada angkot yang melewati kampus dimana Ana mau kuliah. Namun kejadian yang tidak diharapkan terjadi. Motor itu rusak dan kalaupun diperbaiki membutuhkan biaya yang banyak. Kejadian yang kedua yaitu setelah seleksi dan dinyatakan lulus tes,saudaranya sakit. Dengan banyaknya kejadian yang Dia alami membuatnya belajar tentang sesuatu.

Kini Dia lebih bisa mensyukui tentang hidupnya. Karena sesungguhnya shalatnya,ibadahnya,dzikirnya tidaklah sebanding dengan nikmat yang telah Allah berikan. Ana merasa dirinya hanyalah hamba Allah yang masih berlumuran dosa.Akhirnya Dia benar-benar bisa melepaskan impiannya untuk kuliah dan uang yang seharusnya digunakan untuk biaya masuk digunakan untuk biaya ruamah sakit.

Pada saat liburan Ana dan Ibunya ke Jakarta ke rumah saudara. Dia juga akan bertemu dengan Reni,temannya waktu SMK. Reni mengajak Ana bertemu di kampus,karena pada saat itu Reni hanya bisa ditemui di kampus. Karena sudah lama tidak bertemu,mereka ngobrol sampai malam. Dan Ana hanya mengirimkan pesan singkat ke Ibunya kalau Dia sedang ada di kampus. Ibunya berfikir kalau Ana mendaftar lagi di kampus, karena seringnya dia minta izin untuk bisa melanjutkan kuliah. Padahal Ana hanya ngobrol saja dengan Reni.Entah apa yang terjadi,setelah sampai di rumah Ibunya berkata bahwa Ana boleh melanjutkan kuliah. Sesuatu yang tidak pernah disangka,

Dia bisa kuliah di kampus yang tidak pernah dibayangkannya sebelumnya. Karena selama ini Dia berharap bisa kuliah di Jogja. Kesempatan itu datang pada saat Dia bisa melepaskan impiannya untuk kuliah. Bus yang akan membawanya ke Jakarta telah datang. Sebelum berangkat Dia berpamitan kepada kedua orang tuanya. Kedua orang tua yang selalu mendoakan kebaikan untuk anaknya,kedua orang tua yang selalu menyayangi dan bisa menerima apapun keadaan anaknya. 

Setiap kejadian yang tidak kita inginkan pada diri kita,diantaranya ada yang disebabkan oleh sikap tergesa-gesa. Padahal sabar dan doa merupakan satu paket untuk mendapatkan ridha-Nya. Karena dengan kesabaran tersebut kita diuji kesungguhan serta ketekunan dalam memohon kepada-Nya. Termasuk didalam rangkaian sabar adalah tekun dalam berdoa, tidak berputus asa dari rahmat-Nya,bertawakal kepada Allah,mengiringi doa dengan kebaikan,serta selalu mengingat-Nya. Ana membuka book dream dan menuliskan beberapa kata.”Ya Allah,hamba ingin selalu bersyukur dan menerima semua takdir-Mu dengan senang hati”.

TAMAT

0 Response to "Apakah doaku sesuai kehendak Allah?"

Post a Comment

Terimakasih sudah bersedia berkunjung. Semoga bermanfaat. Silahkan tulis komentar anda di papan komentar. Komentar anda sangat bermanfaat untuk kemajuan artikel-artikel selanjutnya.