Penggabungan dan Pemisahan Kata

Sering kali kita merasa kesilitan dalam sebuh penulisan menggunakan bahasa Indonesia, khususnya penlisan kata yang sebenarnya harus dipisah namun kadangkala kita menuliskannya dirangkai atau saling menyatu sama lain. BAh, pada kesempatan kali ini akan dibahas hal tersebut yakni mengenai penggabungan dan pemisahan kata. Kata mana saja dan bagaimana yang harus dipisah dan harus dirangkai dalam penulisannya.
 
 
Penulisan dalam bahasa Indonesia, beberapa kata jadian ditulis serangkai atau gabung sementara beberapa yang lain ditulis terpisah. Ada beberapa aturan yang berkenaan dengan hal tersebut. Beberapa aturan tersebut adalah: 
 
1. Kata yang mendapatkan afiks atau imbuhan ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Afiks tersebut dapat berbentuk prefiks atau awalan, infiks (sisipan), sufiks (akhiran), dan konfiks (gabungan awalan dan akhiran) 
Contoh : 
Ber- + main = bermain 
-em- + gertak = gemeretak
 - an +makan = makanan 
Ke-an +tuhan = ketuhanan 
 
2. Prefiks atau kata yang diikuti kata berawal kapital penggabungannya harus menggunakan tanda hubung karena huruf kapital tidak dibenarkan berada di tengah kata. 
Contoh : 
Non- + Islam = non-Islam 
Ampunan +Mu = ampunan-Mu 
 
3. Konfiks apabila diikuti dengan frase atau kelompok kata, penulisan frase tersebut harus digabung. 
Contoh: 
Me-kan + kambing hitam = mengambinghitamkan 
Meper-kan + tanggung jawab = mempertanggungjawabkan 
di-kan + anak tiri = dianaktirikan 
 
4. Afiks yang diikuti angka penulisannya harus menggunakan tanda hubung. 
Contoh: Ke- + 20 =ke-20 
 
5. Semua prefiks baik asli Indonesia ataupun serapan dari bahasa asing diperlakukan sama dengan cara digabung. Beberapa jenis prefiks serapan yang harus ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya adalah: 
Pra- + olimpiade = praolimpiade 
Pasca- + panen = pascapanen 
Neo- + demokrasi = neodemokrasi 
Kontra- + indikasi = kontraindikasi 
Pro- + reformasi = proreformasi 
Tuna- + netra = tunanetra 
Antar- + daerah = antardaerah 
Anti- + teroris = antiteroris 
Eks- + karisedenan = ekskarisidenan 
Inter- + nasional = internasional
 
Gabungan kata yang lazim disebut kata majemuk ditulis terpisah.

Contoh: tanda tangan; terima kasih; rumah sakit; tanggung jawab; kambing hitam; dll.

Perhatikan kalau gabungan kata itu mendapatkan imbuhan!

Apabila gabungan kata itu mendapatkan awalan atau akhiran saja, awalan atau akhiran itu harus dirangkai dengan kata yang dekat dengannya. kata lainnya tetap ditulis terpisah dan tidak diberi tanda hubung.
Contoh: berterima kasih; bertanda tangan; tanda tangani; dll.

Apabila gabungan kata itu mendapatkan awalan dan akhiran, penulisan gabungan kata harus serangkai dan tidak diberi tanda hubung.
Contoh: menandatangai; pertanggungjawaban; mengkambinghitamkan; dll.

Gabungan kata yang sudah dianggap satu kata.

Dalam bahasa Indonesia ada gabungan kata yang sudah dianggap padu benar. Arti gabungan kata itu tidak dapat dikembalikan kepada arti kata-kata itu.
Contoh: bumiputra; belasungkawa; sukarela; darmabakti; halalbihalal; kepada; segitiga; padahal; kasatmata; matahari; daripada; barangkali; beasiswa; saputangan; dll

Kata daripada, misalnya, artinya tidak dapat dikembalikan kepada kata dari dan pada. Itu sebabnya, gabungan kata yang sudah dianggap satu kata harus ditulis serangkai.

Gabungan kata yang salah satu unsurnya tidak dapat berdiri sendiri sebagai satu kata yang mengandung arti penuh, unsur itu hanya muncul dalam kombinasinya.

Contoh: tunanetra; tunawisma; narasumber; dwiwarna; perilaku; pascasarjana; subseksi; dll.

Kata tuna berarti tidak punya, tetapi jika ada yang bertanya, “Kamu punya uang?” kita tidak akan menjawabnya dengan “tuna”. Begitu juga dengan kata dwi, yang berarti dua, kita tidak akan berkata, “saya punya dwi adik laki-laki.” Karena itulah gabungan kata ini harus ditulis dirangkai.

Perhatikan gabungan kata berikut!

Jika unsur terikat itu diikuti oleh kata yang huruf awalnya kapital, di antara kedua unsur itu diberi tanda hubung.

Contoh: non-Indonesia; SIM-ku; KTP-mu.

Unsur maha dan peri ditulis serangkai dengan unsur yang berikutnya, yang berupa kata dasar. Namun dipisah penulisannya jika dirangkai dengan kata berimbuhan.

Contoh: Mahabijaksana; Mahatahu; Mahabesar.
Maha Pengasih; Maha Pemurah; peri keadilan; peri kemanusiaan.

Tetapi, khusus kata ESA, walaupun berupa kata dasar, gabungan kata maha dan esa ditulis terpisah => Maha Esa.

Demikian mengenai penggabungan dan pemisahan kata. Semoga dalam menulis kita menjadi lebih baik dan mengikuti Ejaan Yang Disempurnakan. Semoga bermanfaat dan salam gurungapak.

Silahkan masukan e-mail Anda sekarang, untuk mendapatkan update artikel terbaru (Gratis!):

Delivered by FeedBurner

0 Response to "Penggabungan dan Pemisahan Kata"

Post a Comment

Terimakasih sudah bersedia berkunjung. Semoga bermanfaat. Silahkan tulis komentar anda di papan komentar. Komentar anda sangat bermanfaat untuk kemajuan artikel-artikel selanjutnya.