Kumpulan Puisi Bertema Perjuangan dan Kepahlawanan.

Puisi kepahlawanan- Sahabat setia gurungapak.com dimanapun berada, kita bertemu kembali dengan postingan yang sedikit berbeda pada kesempatan kali ini. Biasanya banyak artikel atau kumpulan materi yang menyangkut pendidikan ataupun materi mengenai Pendidikan Bahasa Indonesia. Namun, pada kesempatan kali ini akan disajikan kumpulan puisi yang bertema perjuangan para pahlawan. 

Puisi kepahlawanan- Sahabat setia gurungapak.com dimanapun berada, kita bertemu kembali dengan postingan yang sedikit berbeda pada kesempatan kali ini. Biasanya banyak artikel atau kumpulan materi yang menyangkut pendidikan ataupun materi mengenai Pendidikan Bahasa Indonesia. Namun, pada kesempatan kali ini akan disajikan kumpulan puisi yang bertema perjuangan para pahlawan.     Puisi-puisi ini adalah karangan sang maestro sastra Indonesia, Ya, dia adalah Chairil Anwar. Puisi yang tercipta lewat insipari-inspirasinya dan mampu menghipnotis para pembaca maupun para pendengarnya. Melalui rangkaian kata-kata yang pastinya indah dan penuh dengan makna. Meskipun demikian, dalam postingan kali ini, juga disiisipkan puisi yang bertemakan pahlawan karya orang lain, jadi tidak semuanya dari sang maestro.  Mengingat pahlawan merupakan orang yang banyak berjasa bagi kita, maka untuk mengenang dan menghargai perjuangan dan jasa para pahlawan, disajikanlah kumpulan puisi yang bertema pahlawan. Pahlawan sendiri bukan saja beliau-beliau para pejuang yang telah gugur mempertahankan kemerdekaan negara Indonesia, akan tetapi guru-guru kita, orangtua kita, mereka juga pahlawan. Tanpa guru yang memebrikan pengetahuan kita tidak akan mampu dan bisa membaca, menulis, berbahasa dengan santun seperti sekarang, tanpa orang tua juga kita tidak akan menikmati kehidupan seperti sekarang dn mungkin nasib kita akan ditakdirkan berbeda.  Baiklah ini dia puisi bertema kepahlawanan.     PAHLAWAN TAK DIKENAL  Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring Tetapi bukan tidur, sayang Sebuah lubang peluru bundar di dadanya Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang Dia tidak ingat bilamana dia datang Kedua lengannya memeluk senapang Dia tidak tahu untuk siapa dia datang Kemudian dia terbaring, tapi bukan tidur sayang wajah sunyi setengah tengadah Menangkap sepi padang senja Dunia tambah beku di tengah derap dan suara merdu Dia masih sangat muda Hari itu 10 November, hujan pun mulai turun Orang-orang ingin kembali memandangnya Sambil merangkai karangan bunga Tapi yang nampak, wajah-wajahnya sendiri yang tak dikenalnya Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring Tetapi bukan tidur, sayang Sebuah peluru bundar di dadanya Senyum bekunya mau berkata : aku sangat muda   Siapa Pahlawanku?  Pahlawanku tidak memiliki kekuatan tempur karena pahlawanku tidak berkelahi  Pahlawanku tidak bisa terbang Karena pahlawanku tidak punya sayap  Pahlawanku tidak memiliki kostum khusus Karena pahlawanku hanya manusia biasa  Pahlawanku berbeda dari setiap jenis superhero  Pahlawanku membuatku pintar pahlawanku mengubah masa depanku pahlawanku membuatku tahu sesuatu Karena pahlawanku adalah guruku  Allah memberkatimu, guru.    Kau Pilih Aku  Menatapku setiap hari, Menatapku dengan mata ceria  Dia pikir aku pahlawan Pahlawan dalam hal apa?  Dan dia merindukan Pahlawan hatinya  Dia melihat pahlawan pahlawan palsu pahlawan fantasi pahlawan otot pahlawan dari pahlawan  Matanya tidak bisa melihat Apa pun yang luar biasa dalam diriku  Indranya tidak bisa merasakan Sesuatu yang unik dalam diriku  Tapi hatinya Hati yang tidak kenal kompromi Telah jatuh untukku    Pahlawan Terbaik  Salam pahlawan besar! Pahlawan pemberani! Kami memuji Engkau pahlawan!  Aku budakmu Sepatutnya jatuh Memberikan lutut Dalam ibadah kepadamu Pahlawan!  Sekarang kau penyelamat dunia kita Yang terbungkus jubah klasik Dan apakah itu mengalir seperti darah memerah Dalam pertempuran yang berkecamuk di bidang lumpur?  Oh, pahlawan ceritakan ketenaranmu Apakah ular menggeliat dalam pertempuranmu? Apakah kamu menembus jantung naga Pahlawan pemberani; mainkan peranmu  Ketika tirani dibunuh dalam perjuanganmu Pada tanah yang gemetar karena pertempuran itu? Dan apakah kamu mendatuk jahat? Menjadi limbah bagi para pelayan iblis?  Oh pahlawan gagah berani, apakah pedangmu Bersinar dari usaha mendalami keberanian? Pedangmu oh pahlawan, memicu kilatan petir Dari pengisian baja untuk memberikan petunjuk terang  Sepertinya aku jatuh Dalam memerah malu Aku berbicara kepada aku  Cermin ini membantu untuk berfantasi Bahwa aku menjadi pahlawan duniawi yang bijaksana Tapi lemah lembut dan ringan adalah diriku Pahlawan sia-sia; penipu yang tak terkendali.   Jenis-jenis Pahlawan  Pahlawannya cantik dan langsing Pahlawannya adalah pahlawan bagi banyak orang Seorang pahlawan ketenaran dan pahlawan keberuntungan Seorang teladan, pahlawan artis  Pahlawannya adalah sporty dan cepat Pahlawannya adalah pahlawan bagi banyak orang Seorang pahlawan olahraga, pahlawan tangkas Seorang panutan, pahlawan kemenangan  Pahlawannya adalah lebih pintar dari pesawat Pahlawannya adalah pahlawan bagi banyak orang Seorang pahlawan ilmu, pahlawan logika Seorang teladan, pahlawan pengetahuan  Pahlawannya adalah pahlawan seni tapi dia miskin Pahlawannya adalah pahlawan bagi banyak orang Seorang pahlawan kata, pahlawan tulisan Seorang panutan, pahlawan bahasa   TNI  Pahlawanku tidak berada dalam komik Pahlawanku tidak memakai jubah superman Pahlawanku tidak menghadapi pertempuran mitos Pahlawanku tidak memiliki panggilan khusus  Tidak khayalan Pahlawanku nyata Pahlawanku memakai pakaian hijau  Pahlawanku hidup untuk mereka Untuk orang-orang yang mereka cintai  Pahlawanku begitu banyak Untuk jadi sedikit kembali  Pahlawanku orang normal Dengan hati besar  Pahlawanku tidak sempurna Terkadang melakukan kesalahan  Tapi pahlawanku adalah berani berani dan terhormat  Perjuangan pahlawanku untuk merah putih Perjuangan pahlawanku untuk kamu dan aku   Untukmu Pahlawan Indonesiaku   Demi negri… Engkau korbankan waktumu Demi bangsa… Rela kau taruhkan nyawamu   Maut menghadang di depan Kau bilang itu hiburan Tampak raut wajahmu Tak segelintir rasa takut   Semangat membara di jiwamu Taklukkan mereka penghalang negri Hari-hari mu di warnai Pembunuhan dan pembantaian   Dan dihiasi Bunga-bunga api Mengalir sungai darah di sekitarmu Bahkan tak jarang mata air darah itu Yang muncul dari tubuhmu   Namun tak dapat… Runtuhkan tebing semangat juangmu Bambu runcing yang setia menemanimu Kaki telanjang yang tak beralas   Pakaian dengan seribu wangian Basah di badan keringpun di badan Yang kini menghantarkan indonesia Kedalam istana kemerdekaan  Puisi Kepahlawanan – Pupus Raga Hilang Nyawa   Napak tilas para pahlawan bangsa Berkibar dalam syair sang saka Berkobar dalam puisi indonesia Untuk meraih Cita-cita merdeka   Napak tilas anak bangsa Bersatu dalam semangat jiwa Bergema di jagat nusantara Untuk meraih prestasi dan karya   Merdeka… Kata yang penuh dengan makna Bertahta dalam raga pejuang bangsa Bermandikan darah dan air mata   Merdeka… Perjuangan tanpa pamrih untuk republik tercinta Menggelora di garis khatulistiwa Memberi kejayaan bangsa sepanjang masa   Merdeka… Harta yang tak ternilai harganya Menjadi pemicu pemimpin bangsa Untuk tampil di Era dunia  Puisi Pahlawan – Pengorbanan   Mengucur deras keringat Membasahi tubuh yang terikat Membawa angan jauh entah kemana Bagaikan pungguk merindukan bulan  Jiwa ini terpuruk dalam kesedihan   Pagi yang menjadi malam Bulan yang menjadi tahun Sekian lama telah menanti  Dirinya tak jua lepas   Andai aku sang Ksatria Aku pasti menyelamatkanya Namun semua hanya mimpi  Dirinyalah yang harus berusaha Untuk membawa pergi dari kegelapan abadi (Puisi Karya Siti Halimah)  Di Balik Seruan Pahlawan   Kabut… Dalam kenangan pergolakan pertiwi Mendung… Bertandakah hujan deras  Membanjiri rasa yang haus kemerdekaan Dia yang semua yang ada menunggu keputusan Sakral   Serbu… Merdeka atau mati Allahu Akbar  Titahmu terdengar kian merasuk dalam jiwa Dalam serbuan bambu runcing menyatu Engkau teruskan Menyebut Ayat-ayat suci Engkau teriakkan semangat juang demi negri Engkau relakan terkasih menahan tepaan belati Untuk ibu pertiwi   Kini kau lihat… Merah hitam tanah kelahiranmu Pertumpahan darah para penjajah keji Gemelutmu tak kunjung sia Lindunganya selalu di hatimu Untuk kemerdekaan Indonesia Abadi (Puisi Karya Zshara Aurora)  Untuk Pahlawan Negriku   Untuk negriku… Hancur lebing tulang belulang Berlumur darah sekujur tubuh Bermandi keringat penyejuk hati  Ku rela demi tanah airku Sangsaka merah berani Putih nan suci  Melambai-lambai di tiup angin  Air mata bercucuran sambil menganjungkan do’a Untuk pahlawan negri Berpijak berdebu pasir Berderai kasih hanya untuk pahlawan jagat raya Hanya jasamu yang bisa ku lihat Hanya jasamu yang bisa ku kenang Tubuhmu hancur lebur hilang entah kemana Demi darahmu… Demi tulangmu… Aku perjuangkan negriku Ini Indonesiaku  Puisi – Pahlawanku Pahlawanku… Bagaimana Ku bisa Membalas Jasa-jasamu Yang telah kau berikan untuk bumi pertiwi   Haruskah aku turun ke medan perang Haruskah aku mandi berlumuran darah Haruskah aku tersusuk pisau belati penjajah Aku tak tahu cara untuk membalas Jasa-jasamu   Engkau relakan nyawamu Demi suatu kemerdekaan yang mungkin Tak bisa kau raih dengan tanganmu sendiri Pahlawanku engkaulah bunga bangsa (Puisi Karya Rezha Hidayat)  Puisi Perjuangan – Indonesiaku Kini Negaraku cinta indonesia Nasibmu kini menderita Rakyatmu kini sengsara Pemimpin yang tidak bijaksana Apakah pantas memimpin negara Yang aman sentosa Indonesiaku tumpah darahku Apakah belum bangun dan terjaga Pemimpin yang kita bangga Apakah rasa kepemimpinan itu, Masih tersimpan di nurani Dan tertinggal di lubuk hati Rakyat membutuhkanmu Seorang khalifatur Rasyidin Yang setia dalam memimpin Yang menyantuni fakir miskin Mengasihi anak yatim Kami mengharapkan pemimpin Yang sholeh dan solehah Menggantikan tugas Rasulullah Seorang pemimpin Ummah Yang bersifat Siddiq dan Fatanah Andai aku menemukan Seorang pemimpin dunia Seorang pemimpin negara dan agama Seorang pemimpin Indonesia ku tercinta Allah maha mengetahui dan yang mengetahuinya (Puisi Karya Awaliya Nur Ramadhana)  Puisi Pahlawan – Bambu Runcing   Mengapa engkau bawa padaku Moncong bayonet dan sangkur terhunus Padahal aku hanya ingin merdeka Dan membiarkan Nyiur-nyiur derita Musnah di tepian langit Karena kau memaksaku Bertahan atau mati Dengan mengirim ratusan Bom Yang engkau ledakkan di kepalaku Aku terpaksa membela diri Pesawat militermu jatuh Di tusuk bambu runcingku Semangat perdukaanmu runtuh Kandas di Batu-batu cadas Kota Surabaya yang panas  Puisi Perjuangan – Pemuda Untuk perubahan   Indonesiaku menangis Bahkan Tercabik-cabik Dengan hebatnya pengusaanya sang korupsi Tak peduli rakyat menangis Kesejahteraan jadi Angan-angan Keadilan hanyalah Khayalan Kemerdekaan telah terjajah Yang tinggal hanya kebodohan Indonesiaku, Indonesia kita bersama Jangan hanya tinggal diam kawan Mari kita bersatu ambil peranan Sebagai pemuda untuk perubahan (Puisi Karya Ananda Rezky Wibowo)  Bagaimana sahabat gurungapak, puisinya keren-keren bukan? Begitulah yang dapat disajikan mngenai kumpulan puisi bertema perjuangan dan kepahlawanan. Semoga dapat menginspirasi kita lewat makna yang tersirat maupun makan yang tersurat dari kumpulan puisi-puisi di atas. Semoga bermanfaat dan salam gurungapak!


Puisi-puisi ini adalah karangan sang maestro sastra Indonesia, Ya, dia adalah Chairil Anwar. Puisi yang tercipta lewat insipari-inspirasinya dan mampu menghipnotis para pembaca maupun para pendengarnya. Melalui rangkaian kata-kata yang pastinya indah dan penuh dengan makna. Meskipun demikian, dalam postingan kali ini, juga disiisipkan puisi yang bertemakan pahlawan karya orang lain, jadi tidak semuanya dari sang maestro.

Mengingat pahlawan merupakan orang yang banyak berjasa bagi kita, maka untuk mengenang dan menghargai perjuangan dan jasa para pahlawan, disajikanlah kumpulan puisi yang bertema pahlawan. Pahlawan sendiri bukan saja beliau-beliau para pejuang yang telah gugur mempertahankan kemerdekaan negara Indonesia, akan tetapi guru-guru kita, orangtua kita, mereka juga pahlawan. Tanpa guru yang memebrikan pengetahuan kita tidak akan mampu dan bisa membaca, menulis, berbahasa dengan santun seperti sekarang, tanpa orang tua juga kita tidak akan menikmati kehidupan seperti sekarang dn mungkin nasib kita akan ditakdirkan berbeda.

Baiklah ini dia puisi bertema kepahlawanan.
PAHLAWAN TAK DIKENAL

Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah lubang peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang
Dia tidak ingat bilamana dia datang
Kedua lengannya memeluk senapang
Dia tidak tahu untuk siapa dia datang
Kemudian dia terbaring, tapi bukan tidur sayang
wajah sunyi setengah tengadah
Menangkap sepi padang senja
Dunia tambah beku di tengah derap dan suara merdu
Dia masih sangat muda
Hari itu 10 November, hujan pun mulai turun
Orang-orang ingin kembali memandangnya
Sambil merangkai karangan bunga
Tapi yang nampak, wajah-wajahnya sendiri yang tak dikenalnya
Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata : aku sangat muda



Siapa Pahlawanku?

Pahlawanku tidak memiliki kekuatan tempur
karena pahlawanku tidak berkelahi

Pahlawanku tidak bisa terbang
Karena pahlawanku tidak punya sayap

Pahlawanku tidak memiliki kostum khusus
Karena pahlawanku hanya manusia biasa

Pahlawanku berbeda dari setiap jenis superhero

Pahlawanku membuatku pintar
pahlawanku mengubah masa depanku
pahlawanku membuatku tahu sesuatu
Karena pahlawanku adalah guruku

Allah memberkatimu, guru.

Kau Pilih Aku

Menatapku setiap hari,
Menatapku dengan mata ceria

Dia pikir aku pahlawan
Pahlawan dalam hal apa?

Dan dia merindukan
Pahlawan hatinya

Dia melihat pahlawan
pahlawan palsu
pahlawan fantasi
pahlawan otot
pahlawan dari pahlawan

Matanya tidak bisa melihat
Apa pun yang luar biasa dalam diriku

Indranya tidak bisa merasakan
Sesuatu yang unik dalam diriku

Tapi hatinya
Hati yang tidak kenal kompromi
Telah jatuh untukku

Pahlawan Terbaik

Salam pahlawan besar!
Pahlawan pemberani!
Kami memuji Engkau pahlawan!

Aku budakmu
Sepatutnya jatuh
Memberikan lutut
Dalam ibadah kepadamu
Pahlawan!

Sekarang kau penyelamat dunia kita
Yang terbungkus jubah klasik
Dan apakah itu mengalir seperti darah memerah
Dalam pertempuran yang berkecamuk di bidang lumpur?

Oh, pahlawan ceritakan ketenaranmu
Apakah ular menggeliat dalam pertempuranmu?
Apakah kamu menembus jantung naga
Pahlawan pemberani; mainkan peranmu

Ketika tirani dibunuh dalam perjuanganmu
Pada tanah yang gemetar karena pertempuran itu?
Dan apakah kamu mendatuk jahat?
Menjadi limbah bagi para pelayan iblis?

Oh pahlawan gagah berani, apakah pedangmu
Bersinar dari usaha mendalami keberanian?
Pedangmu oh pahlawan, memicu kilatan petir
Dari pengisian baja untuk memberikan petunjuk terang

Sepertinya aku jatuh
Dalam memerah malu
Aku berbicara kepada aku

Cermin ini membantu untuk berfantasi
Bahwa aku menjadi pahlawan duniawi yang bijaksana
Tapi lemah lembut dan ringan adalah diriku
Pahlawan sia-sia; penipu yang tak terkendali.


Jenis-jenis Pahlawan

Pahlawannya cantik dan langsing
Pahlawannya adalah pahlawan bagi banyak orang
Seorang pahlawan ketenaran dan pahlawan keberuntungan
Seorang teladan, pahlawan artis

Pahlawannya adalah sporty dan cepat
Pahlawannya adalah pahlawan bagi banyak orang
Seorang pahlawan olahraga, pahlawan tangkas
Seorang panutan, pahlawan kemenangan

Pahlawannya adalah lebih pintar dari pesawat
Pahlawannya adalah pahlawan bagi banyak orang
Seorang pahlawan ilmu, pahlawan logika
Seorang teladan, pahlawan pengetahuan

Pahlawannya adalah pahlawan seni tapi dia miskin
Pahlawannya adalah pahlawan bagi banyak orang
Seorang pahlawan kata, pahlawan tulisan
Seorang panutan, pahlawan bahasa


TNI

Pahlawanku tidak berada dalam komik
Pahlawanku tidak memakai jubah superman
Pahlawanku tidak menghadapi pertempuran mitos
Pahlawanku tidak memiliki panggilan khusus

Tidak khayalan
Pahlawanku nyata
Pahlawanku memakai pakaian hijau

Pahlawanku hidup untuk mereka
Untuk orang-orang yang mereka cintai

Pahlawanku begitu banyak
Untuk jadi sedikit kembali

Pahlawanku orang normal
Dengan hati besar

Pahlawanku tidak sempurna
Terkadang melakukan kesalahan

Tapi pahlawanku adalah
berani
berani
dan terhormat

Perjuangan pahlawanku untuk merah putih
Perjuangan pahlawanku untuk kamu dan aku


Untukmu Pahlawan Indonesiaku

Demi negri…
Engkau korbankan waktumu
Demi bangsa…
Rela kau taruhkan nyawamu

Maut menghadang di depan
Kau bilang itu hiburan
Tampak raut wajahmu
Tak segelintir rasa takut

Semangat membara di jiwamu
Taklukkan mereka penghalang negri
Hari-hari mu di warnai
Pembunuhan dan pembantaian

Dan dihiasi Bunga-bunga api
Mengalir sungai darah di sekitarmu
Bahkan tak jarang mata air darah itu
Yang muncul dari tubuhmu

Namun tak dapat…
Runtuhkan tebing semangat juangmu
Bambu runcing yang setia menemanimu
Kaki telanjang yang tak beralas

Pakaian dengan seribu wangian
Basah di badan keringpun di badan
Yang kini menghantarkan indonesia
Kedalam istana kemerdekaan

Puisi Kepahlawanan – Pupus Raga Hilang Nyawa

Napak tilas para pahlawan bangsa
Berkibar dalam syair sang saka
Berkobar dalam puisi indonesia
Untuk meraih Cita-cita merdeka

Napak tilas anak bangsa
Bersatu dalam semangat jiwa
Bergema di jagat nusantara
Untuk meraih prestasi dan karya

Merdeka…
Kata yang penuh dengan makna
Bertahta dalam raga pejuang bangsa
Bermandikan darah dan air mata

Merdeka…
Perjuangan tanpa pamrih untuk republik tercinta
Menggelora di garis khatulistiwa
Memberi kejayaan bangsa sepanjang masa

Merdeka…
Harta yang tak ternilai harganya
Menjadi pemicu pemimpin bangsa
Untuk tampil di Era dunia

Puisi Pahlawan – Pengorbanan

Mengucur deras keringat
Membasahi tubuh yang terikat
Membawa angan jauh entah kemana
Bagaikan pungguk merindukan bulan
 Jiwa ini terpuruk dalam kesedihan
Pagi yang menjadi malam
Bulan yang menjadi tahun
Sekian lama telah menanti
 Dirinya tak jua lepas
Andai aku sang Ksatria
Aku pasti menyelamatkanya
Namun semua hanya mimpi
 Dirinyalah yang harus berusaha
Untuk membawa pergi dari kegelapan abadi
(Puisi Karya Siti Halimah)

Di Balik Seruan Pahlawan

Kabut…
Dalam kenangan pergolakan pertiwi
Mendung…
Bertandakah hujan deras
 Membanjiri rasa yang haus kemerdekaan
Dia yang semua yang ada menunggu keputusan Sakral
Serbu…
Merdeka atau mati Allahu Akbar
 Titahmu terdengar kian merasuk dalam jiwa
Dalam serbuan bambu runcing menyatu
Engkau teruskan Menyebut Ayat-ayat suci
Engkau teriakkan semangat juang demi negri
Engkau relakan terkasih menahan tepaan belati
Untuk ibu pertiwi
Kini kau lihat…
Merah hitam tanah kelahiranmu
Pertumpahan darah para penjajah keji
Gemelutmu tak kunjung sia
Lindunganya selalu di hatimu
Untuk kemerdekaan Indonesia Abadi
(Puisi Karya Zshara Aurora)

Untuk Pahlawan Negriku
Untuk negriku…
Hancur lebing tulang belulang
Berlumur darah sekujur tubuh
Bermandi keringat penyejuk hati 
Ku rela demi tanah airku
Sangsaka merah berani
Putih nan suci 
Melambai-lambai di tiup angin 
Air mata bercucuran sambil menganjungkan do’a
Untuk pahlawan negri
Berpijak berdebu pasir
Berderai kasih hanya untuk pahlawan jagat raya
Hanya jasamu yang bisa ku lihat
Hanya jasamu yang bisa ku kenang
Tubuhmu hancur lebur hilang entah kemana
Demi darahmu…
Demi tulangmu…
Aku perjuangkan negriku
Ini Indonesiaku

Puisi – Pahlawanku
Pahlawanku…
Bagaimana Ku bisa
Membalas Jasa-jasamu
Yang telah kau berikan untuk bumi pertiwi

Haruskah aku turun ke medan perang
Haruskah aku mandi berlumuran darah
Haruskah aku tersusuk pisau belati penjajah
Aku tak tahu cara untuk membalas Jasa-jasamu
Engkau relakan nyawamu
Demi suatu kemerdekaan yang mungkin
Tak bisa kau raih dengan tanganmu sendiri
Pahlawanku engkaulah bunga bangsa
(Puisi Karya Rezha Hidayat)

Puisi Perjuangan – Indonesiaku Kini
Negaraku cinta indonesia
Nasibmu kini menderita
Rakyatmu kini sengsara
Pemimpin yang tidak bijaksana
Apakah pantas memimpin negara
Yang aman sentosa
Indonesiaku tumpah darahku
Apakah belum bangun dan terjaga
Pemimpin yang kita bangga
Apakah rasa kepemimpinan itu,
Masih tersimpan di nurani
Dan tertinggal di lubuk hati
Rakyat membutuhkanmu
Seorang khalifatur Rasyidin
Yang setia dalam memimpin
Yang menyantuni fakir miskin
Mengasihi anak yatim
Kami mengharapkan pemimpin
Yang sholeh dan solehah
Menggantikan tugas Rasulullah
Seorang pemimpin Ummah
Yang bersifat Siddiq dan Fatanah
Andai aku menemukan
Seorang pemimpin dunia
Seorang pemimpin negara dan agama
Seorang pemimpin Indonesia ku tercinta
Allah maha mengetahui dan yang mengetahuinya
(Puisi Karya Awaliya Nur Ramadhana)

Puisi Pahlawan – Bambu Runcing

Mengapa engkau bawa padaku
Moncong bayonet dan sangkur terhunus
Padahal aku hanya ingin merdeka
Dan membiarkan Nyiur-nyiur derita
Musnah di tepian langit
Karena kau memaksaku
Bertahan atau mati
Dengan mengirim ratusan Bom
Yang engkau ledakkan di kepalaku
Aku terpaksa membela diri
Pesawat militermu jatuh
Di tusuk bambu runcingku
Semangat perdukaanmu runtuh
Kandas di Batu-batu cadas
Kota Surabaya yang panas

Puisi Perjuangan – Pemuda Untuk perubahan

Indonesiaku menangis
Bahkan Tercabik-cabik
Dengan hebatnya pengusaanya sang korupsi
Tak peduli rakyat menangis
Kesejahteraan jadi Angan-angan
Keadilan hanyalah Khayalan
Kemerdekaan telah terjajah
Yang tinggal hanya kebodohan
Indonesiaku, Indonesia kita bersama
Jangan hanya tinggal diam kawan
Mari kita bersatu ambil peranan
Sebagai pemuda untuk perubahan
(Puisi Karya Ananda Rezky Wibowo)

Bagaimana sahabat gurungapak, puisinya keren-keren bukan? Begitulah yang dapat disajikan mngenai kumpulan puisi bertema perjuangan dan kepahlawanan. Semoga dapat menginspirasi kita lewat makna yang tersirat maupun makan yang tersurat dari kumpulan puisi-puisi di atas. Semoga bermanfaat dan salam gurungapak!

Silahkan masukan e-mail Anda sekarang, untuk mendapatkan update artikel terbaru (Gratis!):

Delivered by FeedBurner

4 Responses to "Kumpulan Puisi Bertema Perjuangan dan Kepahlawanan."

  1. Puisinya sangat menyentuh sekali Bang Heri..apalagi kalau liat picnya..bikin hati saya terenyuh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karya-karya di atas memang sangat bagus bang, apalagi karya beliau Chairil Anwar. membuat trenyuh. Puisi-puisi yang menurut saya keren.

      Delete
  2. saya simpan puisinya mas ya, kebetulan saya suka puisi juga

    ReplyDelete

Terimakasih sudah bersedia berkunjung. Semoga bermanfaat. Silahkan tulis komentar anda di papan komentar. Komentar anda sangat bermanfaat untuk kemajuan artikel-artikel selanjutnya.