Contoh dan Perbedaan Sinopsis dan Resensi

Gurungapak.com - Pembaca setia gurungapak dimanapun berada, pada kesempatan kali ini kita akan membahas salah satu hal yang bisa dibilang kontroversi dan banyak yang bertanya-tanya mengenai topik pembahasan kali ini. Banyak yang kurang memahami mengenai pembahasan kali ini. Atas dasar itulah gurungapak akan membahasnya.
 
 
Ya, tentu saja pembahasannya adalah mengenai contoh dan perbedaan antara sinopsis dan resensi. Sahabat setia gurungapak yang hobi membaca buku mungkin sudah tidak asing dan sudah memahami antara dua komponen ini, namun yang belum terbiasa membaca buku baik itu buku pelajaran, novel dan lain sebagainya pasti akan bertanya-tanya "Bagaimana dan apa contoh perbedaan atara Sinopsis dan resensi?"
 
Kedua hal tersebut sering sekali disamakan layaknya orang kembar, namun sebenarnya antara sinopsis dan resensi itu jelas merupakan suatu hal yang berbeda, layaknya air dan minyak yang tidak akan pernah bisa menyatu. Nah antara sinopsis dan resensi juga sama tidak boleh disamaratakan.
 
Kita ketahui terlebih dahulu mengenai dua hal ini. 
 
Pertama mengenai Sinopsis. Sinopsis adalah ringkasan cerita. Seperti halnya pada novel pasti ada sinopsis novel. Nah dalam hubungannya dengan sinopsis novel memiliki makna yang berarti bentuk pemendekan dari sebuah novel dengan tetap mempertimbangkan unsur-unsur intrinsik novel tersebut. Seperti halnya tokoh dan penokohan, alur, amanat, gaya bahasa dan lain sebagainya.
 
Kedua mengenai resensi.  Resensi adalah suatu pertimbangan, penilaian, ulasan, pendapat orang tertentu mengenai suatu buku. Namun tidak menutup kemungkinan menyertakan ringkasan cerita (sangat sedikit yang menyertakannya), dan apabila menyertakan ringkasan cerita yang ditampilkan adalah potongan-potongan cerita buku yang bersangkutan, yang banyak ditampilkan pada resensi biasanya hanya opini-opini dari pembaca. 
 
Mengenai pengertian dan penjabaran antara sinopsis dan resensi di atas kiranya sudah bisa dimengerti. Sekarang permasalahannya bagaimana contoh dan perbedaan antara sinopsis dan resensi itu?
 
Berikut dibahas perbedaan antara sinopsis dan resensi terlebih dahulu. Perbedaannya adalah:
 
1. Sinopsis beda isi dengan resensi
Dari segi isi, sinopsis dan resensi sudah berbeda. Sinopsis berisi ringkasan isi dari sebuah buku atau novel. Meskipun berisi ringkasan, sebuah sinopsis tetap bisa mencerminkan isi sebuah buku dengan baik. Di sisi lain, resensi berisi ringkasan atau ulasan dari pembaca tentang identitas, isi, harga, kelebihan dan kekurangan suatu buku.

2. Semua buku ada resensinya, tetapi tidak semua buku ada sinopsisnya
Hal ini masih berkaitan dengan isi. Resensi berisi ulasan suatu buku, sehingga semua buku bisa diresensi, termasuk buku pelajaran seperti buku mate-matika. Sedangkan sinopsis berisi ringkasan cerita, jadi hanya novel atau buku yang ada unsur cerita yang ada sinopsisnya.

3. Membuat resensi lebih menantang dibandingkan membuat sinopsis
Tidak dapat dipungkiri bahwa menulis resensi itu tidak mudah. Peresensi harus menilai, menimbang, dan memberikan pendapatnya terhadap suatu buku, dan hasil resensi tersebut, nantinya akan menjadi titik acuan para pembaca yang ingin membaca buku tersebut. Berbeda dengan resensi, seorang pembuat sinopsis tidak perlu mengeluarkan pendapatnya tentang suatu buku, ia hanya perlu menceritakan kembali apa yang sudah ia baca, namun dalam bentuk lebih ringkas.

4. Sinopsis dan Resensi memiliki tujuan yang berbeda

Sesuatu akan dianggap berbeda apabila memiliki tujuan yang berbeda. Misalnya gunting rambut dan gunting rumput adalah benda yang berbeda karena tujuan penggunaanya juga berbeda. Begitu pula dengan sinopsis dan resensi, dua hal ini memiliki tujuan yang berbeda. Sinopsis bertujuan meringkas sebuah buku, dengan mencatat poin-poin penting di dalamnya. Sedangkan resensi bertujuan untuk mengulas buku yang telah dibaca dengan memberikan pertimbangan tentang isi buku, kelebihan dan kelemahan buku, bahkan harga buku.

5. Resensi sangat subjektif, sedangkan sinopsis tidak
Jika kita baca beberapa sinopsis buku yang sama dari orang yang berbeda, maka yang kita temukan adalah hasil yang tidak jauh berbeda. Para pembuat sinopsis akan membuat ringkasan sesuai buku yang dibacanya. Di sisi lain resensi adalah makhluk yang beda lagi jenisnya, ia sangat kental akan unsur subjektifitas pembaca. Boleh jadi sebuah buku sangat baik menurut si A, tapi biasa saja menurut si B, atau bahkan sangat buruk menurut si C.
 
 
Kemudian pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana contoh sinopsis dan resensi? Simak uraian di bawah ini.
 
Sinopsis Novel Ayah Karya Andrea Hirata

Betapa Sabari menyayangi Zorro. Ingin dia memeluknya sepanjang waktu. Dia terpesona melihat makhluk kecil yang sangat indah dan seluruh kebaikan yang terpancar darinya.

Diciuminya anak itu dari kepala sampai ke jari-jemari kakinya yang mungil. Kalau malam Sabari susah susah tidur lantaran membayangkan bermacam rencana yang akan dia lalui dengan anaknya jika besar nanti.

Dia ingin mengajaknya melihat pawai 17 Agustus, mengunjungi pasar malam, membelikannya mainan, menggandengnya ke masjid, mengajarinya berpuasa dan mengaji, dan memboncengnya naik sepeda saban sore ke taman kota.

Resensi Novel Ayah Karya Andrea Hirata
 
 
Judul: Ayah

Penulis: Andrea Hirata

Penerbit: Bentang Pustaka

Terbit: Mei 2015

Tebal: 412 halaman + xx

 
 
Setelah lama tak kedengaran, Andrea Hirata muncul lagi dengan novel barunya, Ayah. Dua minggu sebelum buku ini resmi terbit tanggal 29 Mei, saya sudah mendapatkannya duluan (jangan tanya dapat dari mana). 🙂 Saya langsung membacanya dan tamat dalam 5 hari. Kalau saja saya lagi nggak banyak kerjaan, mungkin satu-dua hari juga beres.

Awalnya saya agak takjub melihat buku ini: kover depan dan beberapa halaman awal dipenuhiendorsement dari berbagai media dan penulis berbagai negara. Padahal novel ini bahkan belum terbit di Indonesia (waktu saya baca)! Tapi kemudian saya kecele. Semua puja-puji itu bukan untuk Ayah, melainkan untuk Laskar Pelangi … hehehe! Kesannya kok Ayah seperti kurang percaya diri, sampai-sampai harus menggunakan endorsement Laskar Pelangi yang jumlahnya berjibun itu.

20150514_132744Di kover belakang pun tidak ada sinopsis Ayah. Yang ada adalah biografi singkat penulisnya—ini pun juga ada di kover dalam bagian depan. Padahal, tanpa semua itu pun Andrea sudah punya pembacanya sendiri. Tapi ya sudahlah …

Ayah masih menggunakan Belitong sebagai latar cerita utama. Ceritanya tentang empat sahabat bernama Sabari, Ukun, Tamat, dan Toharun. Keempatnya bersekolah di sekolah yang sama. Andrea membangun kisah dengan menceritakan keseharian keempat sahabat itu dan latar belakang keluarganya masing-masing.

Mirip dengan tokoh-tokoh di Laskar Pelangi, masing-masing dari keempat sahabat tadi punya karakter yang unik. Tak jarang mereka juga begitu polos dan naif, namun kadang bisa cerdas juga. Bagian ketika Andrea menceritakan masa sekolah anak-anak ini hingga lulus mendapat porsi terbanyak dalam buku. Menurut saya bagian ini cukup asyik. Humornya sangat khas Andrea.

Sabari diceritakan jatuh cinta sejak SMP pada seorang gadis bernama Lena. Walau gadis itu tak pernah memedulikannya, Sabari tak pernah menyerah. Ia kerap memajang kertas berisi puisinya untuk Lena di majalah dinding sekolahnya. Sesekali, gadis itu membalas, juga lewat mading.

Singkat cerita, ketika sudah dewasa pun, Sabari tetap tak bisa melupakan Lena. Suatu hari, ia mendengar kabar bahwa Lena hamil di luar nikah. Saat itu Sabari bekerja di pabrik batako milik Markoni, ayah Lena. Sabari pun mau saja ketika diminta menikahi Lena, demi menyelamatkan nama baik Markoni yang kurang akur dengan Lena itu.

Anak lelaki yang kemudian lahir dari rahim Lena itu kemudian diberi nama Zorro oleh Sabari. Pasalnya, bocah itu ketika diberi boneka Zorro tak mau melepasnya. Sabari sangat menyayangi Zorro. Dia ingin memeluknya sepanjang waktu, terpesona melihat makhluk kecil yang sangat indah itu dan seluruh kebaikan yang terpancar darinya. Tiap malam, Sabari susah susah tidur lantaran membayangkan bermacam rencana yang akan dia lakukan bersama anaknya jika besar nanti. Dia ingin mengajaknya melihat pawai 17 Agustus, mengunjungi pasar malam, membelikannya mainan, menggandengnya ke masjid, mengajarinya berpuasa dan mengaji, dan memboncengnya naik sepeda saban sore ke taman kota.

Dia juga Ikhlas ketika Lena bahkan tak mau tinggal bersama mereka. Beberapa tahun kemudian Lena malah minta cerai dan menikah lagi hingga tiga kali, bahkan akhirnya mengambil Zorro dari Sabari. Pelan-pelan, Sabari mulai tampak seperti orang gila dalam penampilan dan tingkah laku. Dua sahabatnya, Ukun dan Tamat, lama-lama tak tahan melihat Sabari seperti itu, sehingga akhirnya mereka memutuskan menjelajahi Sumatra demi menemukan Lena dan Zorro dan membawa mereka kembali.

Berhubung biasanya orang tidak suka dikasih spoiler saat baca resensi buku, saya juga nggak akan memberitahu akhir kisahnya, dong. Bagi saya, ending-nya agak mudah ditebak, soalnya tokoh yang sering diceritakan di awal tidak muncul lagi di tengah cerita, hingga akhirnya nongol di akhir cerita, dengan nama yang berbeda.

Novel Ayah ini terbagi dalam bab-bab pendek, sehingga pembaca bisa dengan enak mencicil baca. :) Di beberapa halaman akhir juga disertakan informasi soal buku-buku Andrea yang sudah dan akan terbit, baik di Indonesia maupun terjemahan Laskar Pelangi di negara-negara lain. Gila juga, ya …

Demikian pembahasan mengenai contoh dan perbedaan antara sinopsis dan resensi. Semoga dapat memberikan pengetahuan dan ilmu yang bermanfaat kepada para pembaca setia gurungapak dimanapun berada. Salam kompak selalu dalam gurungapak!

Sumber:
Referensi buku bagus
Sujianto
 

Silahkan masukan e-mail Anda sekarang, untuk mendapatkan update artikel terbaru (Gratis!):

Delivered by FeedBurner

2 Responses to "Contoh dan Perbedaan Sinopsis dan Resensi"

  1. jadi yang biasanya di cover belakang buku itu namanya sinopsis ya?

    ReplyDelete
  2. Terima kasih atas ilmu yang bapak bagikan

    ReplyDelete

Terimakasih sudah bersedia berkunjung. Semoga bermanfaat. Silahkan tulis komentar anda di papan komentar. Komentar anda sangat bermanfaat untuk kemajuan artikel-artikel selanjutnya.