Melestarikan Bahasa Jawa Sebagai Warisan Budaya

Banyak aset bangsa yang mestinya dilestarikan keberadaanya dan salah satunya adalah bahasa jawa, karena didalam bahasa jawa terdapat kekayaan nilai-nilai luhur yang turut membentuk kepribadian bangsa. Melalui unggah-ungguhing basa, yang didalamnya mengandung pelajaran mengenai sopan santun, merendahkan diri, mawas diri dan bagaimana kita harus menghormati orang lain, khususnya yang lebih tua dari kita. 

Banyak aset bangsa yang mestinya dilestarikan keberadaanya dan salah satunya adalah bahasa jawa, karena didalam bahasa jawa terdapat kekayaan nilai-nilai luhur yang turut membentuk kepribadian bangsa. Melalui unggah-ungguhing basa, yang didalamnya mengandung pelajaran mengenai sopan santun, merendahkan diri, mawas diri dan bagaimana kita harus menghormati orang lain, khususnya yang lebih tua dari kita.    Halusnya penggunaan bahasa jawa diharapkan tidak hanya terhenti pada tutur saja mlainkan dari segi tingkah laku penuturnya juga harus menyesuaikan. Sehingga tercapai santun kata dan santun perbuatan.   Bahasa jawa yang begitu santunnya sayang jika harus hilang dan punah terkikis oleh waktu dan kemajuan zaman yang semakin modern, sungguh kita merasa menyesal dan berdosa apabila keturunan kita tidak mengenal bahasa jawa yang adi luhung ini. Apakah hal semaca ini akan terjadi? kemungkinan iya, melihat gejala-gejala yang sudah nampak belakangan ini, dan maraknya penggunaan bahasa Indonesia yang dipakai oleh orang jawa sendiri. Untuk sekarang masih banyak kita jumpai penutur bahasa Jawa yang masih aktif menggunakannya. Tidak hanya di Jawa penggunaan bahasa Jawa ini juga dipakai di luar Jawa, dan UNESCO mencatat bahwa bahasa Jawa menduduki nomor 18 dari 2600 bahasa yang ada di dunia dilihat dari banyaknya penutur.    Banyak orang jawa sendiri yang khususnya melakukan perkawinan campuran dan yang merantau kebanyakan lebih bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu untuk bercakap-cakap dengan anak cucu mereka. Tidak ada rasa canggung atau malu sedikitpun bahwa keturunannya tidak bisa berbahasa Jawa, apalagi menggunakan bahasa krama ketika berkunjung ke sanak saudaranya yang lebih tua di Jawa. Mereka tidak merasa kehilangan atau merasa mengurangi hak waris kepada ahli warisnya.   Beruntunglah apabila dikalangan keluarga masih melestarikan bahasa Jawa krama, karena hal ini mengurangi potensi punahnya bahasa Jawa. Kita lihat pada tahun 70-90an banyak sekali orangtua yang mengajari putra-putrinya berbahasa Jawa krama halus disertai dengan sikap yang hormat dan sopan santun kepada orang tua. Bahkan apabila menerima atau memberikan sesuatu menggunakan tangan kiri dianggap tidak sopan dan pasti akan ditegur. Anak-anak sudah dididik untuk bertutur dan memiliki sikap/tingkah laku yang sopan santun kepada siapapun bahkan orang awam yang kita tidak mengenalinya sekalipun.    Namun, apa yang terjadi pada tahun yang dikatakan tahun melenium ini yakni tahun dua ribuan? mengajari anak memakai bahasa Jawa krama halus dianggap kuno, tidak demokratis, meghambat kreatifitas dan keberanian anak. Mereka para priyayi tahun 60-an kesini lebih bangga menggunakan bahasa Jawa, tapi selalu berbahasa Indonesia apabila di tanya. Apalahi jika anak-anak mereka menghafalkan one, two, three, four (satu, dua, tiga, empat dalam bahasa Inggris) mereka akan lebih bangga lagi. Meskipun sebenarnya mereka masih bertutur menggunakan bahasa jawa antar suami dan istri atau orang yang sebaya dan lebih tua, ironisnya kakek dan neneknya pun ikut-ikutan berbicara dengan bahasa Indonesia kepada cucu-cucunya yang baru belajar bahasa. Akibatnya anak-anaknya mengalami gagap bahasa. Anak-anak tahu apa maksud dari orangtuanya yang menggunakan bahasa Jawa saat mendengarkan namun mereka tidak dapat menjawab dengan bahasa Jawa jika ditanya.Bisa dibayangkan apabila anak-anak sudah begitu bagaimana dengan anak cucu mereka kelak?   Banyak sekali upaya-upaya pemerintah untuk melestarikan bahasa Jawa, baik mellaui media massa seperti koran, majalah, Televisi, radio. Namun, sejauh mana ketertarikan anak muda zaman sekarang dengan acara da bacaan yang menggunakan bahasa Jawa ini, perlu adanya pengkajian yang mendalam untuk menjawabnya.    Semoga kita sebagai orang tua dimanapun berada baik itu orang Jawa, Sunda, Papua, Aceh, dan lainnya tetep melestarikan kebudayaan masing-masing, jangan sampai warisan budaya leluhur ini punah karena terputusnya mata rantai pada generasi penerus. Semoga artikel mengenai melestarikan bahasa Jawa sebagai Warisan Budaya Nasional ini dapat menyadarkan kita semua dan memberikan renungan akan pentingnya menjaga dan melestarikan apa yang memang menjadi warisan budaya.    Salam GuruNgapak!

Halusnya penggunaan bahasa jawa diharapkan tidak hanya terhenti pada tutur saja mlainkan dari segi tingkah laku penuturnya juga harus menyesuaikan. Sehingga tercapai santun kata dan santun perbuatan.

Bahasa jawa yang begitu santunnya sayang jika harus hilang dan punah terkikis oleh waktu dan kemajuan zaman yang semakin modern, sungguh kita merasa menyesal dan berdosa apabila keturunan kita tidak mengenal bahasa jawa yang adi luhung ini. Apakah hal semaca ini akan terjadi? kemungkinan iya, melihat gejala-gejala yang sudah nampak belakangan ini, dan maraknya penggunaan bahasa Indonesia yang dipakai oleh orang jawa sendiri. Untuk sekarang masih banyak kita jumpai penutur bahasa Jawa yang masih aktif menggunakannya. Tidak hanya di Jawa penggunaan bahasa Jawa ini juga dipakai di luar Jawa, dan UNESCO mencatat bahwa bahasa Jawa menduduki nomor 18 dari 2600 bahasa yang ada di dunia dilihat dari banyaknya penutur. 

Banyak orang jawa sendiri yang khususnya melakukan perkawinan campuran dan yang merantau kebanyakan lebih bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu untuk bercakap-cakap dengan anak cucu mereka. Tidak ada rasa canggung atau malu sedikitpun bahwa keturunannya tidak bisa berbahasa Jawa, apalagi menggunakan bahasa krama ketika berkunjung ke sanak saudaranya yang lebih tua di Jawa. Mereka tidak merasa kehilangan atau merasa mengurangi hak waris kepada ahli warisnya.

Beruntunglah apabila dikalangan keluarga masih melestarikan bahasa Jawa krama, karena hal ini mengurangi potensi punahnya bahasa Jawa. Kita lihat pada tahun 70-90an banyak sekali orangtua yang mengajari putra-putrinya berbahasa Jawa krama halus disertai dengan sikap yang hormat dan sopan santun kepada orang tua. Bahkan apabila menerima atau memberikan sesuatu menggunakan tangan kiri dianggap tidak sopan dan pasti akan ditegur. Anak-anak sudah dididik untuk bertutur dan memiliki sikap/tingkah laku yang sopan santun kepada siapapun bahkan orang awam yang kita tidak mengenalinya sekalipun. 

Namun, apa yang terjadi pada tahun yang dikatakan tahun melenium ini yakni tahun dua ribuan? mengajari anak memakai bahasa Jawa krama halus dianggap kuno, tidak demokratis, meghambat kreatifitas dan keberanian anak. Mereka para priyayi tahun 60-an kesini lebih bangga menggunakan bahasa Jawa, tapi selalu berbahasa Indonesia apabila di tanya. Apalahi jika anak-anak mereka menghafalkan one, two, three, four (satu, dua, tiga, empat dalam bahasa Inggris) mereka akan lebih bangga lagi. Meskipun sebenarnya mereka masih bertutur menggunakan bahasa jawa antar suami dan istri atau orang yang sebaya dan lebih tua, ironisnya kakek dan neneknya pun ikut-ikutan berbicara dengan bahasa Indonesia kepada cucu-cucunya yang baru belajar bahasa. Akibatnya anak-anaknya mengalami gagap bahasa. Anak-anak tahu apa maksud dari orangtuanya yang menggunakan bahasa Jawa saat mendengarkan namun mereka tidak dapat menjawab dengan bahasa Jawa jika ditanya.Bisa dibayangkan apabila anak-anak sudah begitu bagaimana dengan anak cucu mereka kelak?

Banyak sekali upaya-upaya pemerintah untuk melestarikan bahasa Jawa, baik mellaui media massa seperti koran, majalah, Televisi, radio. Namun, sejauh mana ketertarikan anak muda zaman sekarang dengan acara da bacaan yang menggunakan bahasa Jawa ini, perlu adanya pengkajian yang mendalam untuk menjawabnya. 

Semoga kita sebagai orang tua dimanapun berada baik itu orang Jawa, Sunda, Papua, Aceh, dan lainnya tetep melestarikan kebudayaan masing-masing, jangan sampai warisan budaya leluhur ini punah karena terputusnya mata rantai pada generasi penerus. Semoga artikel mengenai melestarikan bahasa Jawa sebagai Warisan Budaya Nasional ini dapat menyadarkan kita semua dan memberikan renungan akan pentingnya menjaga dan melestarikan apa yang memang menjadi warisan budaya. 

Salam GuruNgapak!

Sumber: Nusa Indah, Edisi 110.

Silahkan masukan e-mail Anda sekarang, untuk mendapatkan update artikel terbaru (Gratis!):

Delivered by FeedBurner

4 Responses to "Melestarikan Bahasa Jawa Sebagai Warisan Budaya"

  1. di Riau juga tersebar penduduk jawa mas.
    jd daerah saya hampir melestarikan bahasa jawa ini,jd gak semua orang Riau kental akan budaya melayu..hehe
    begitu jg suku lainnya ada.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak,sejarahnya memang orang Jawa dimanapun tempat pasti ada, jd jgn hern jika nemu orng Jawa dimana2..tp ya itu kadang krna merantau jd bahasa Jawanya hilang.. padahal itu warisan leluhur..hehe

      Delete
  2. Bener mas.., saya aja yang orang jawa sampe lupa bahasa jawa sendiri ,, hihihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waduhh sayang sekali ya mbak,seharusnya bisa menambah penutur bahsa Jawa dan nguri2 bahasa Jawa...hehe

      Delete

Terimakasih sudah bersedia berkunjung. Semoga bermanfaat. Silahkan tulis komentar anda di papan komentar. Komentar anda sangat bermanfaat untuk kemajuan artikel-artikel selanjutnya.