KELAS KATA

Kelas kata merupakan pengelompokan atau jenis kata dalam bahasa. Baik bahasa Indonesia dan bahasa Inggris kelas kata sudah sangat lazim digunakan dan dipelajari dalam studi linguistik (ilmu bahasa). Istilah yang dipakai dalam pengelompokan kata antara ke dua Negara ini tentulah berbeda, namun intinya sama, yakni pengelompokan tentang suatu kata ke dalam jenisnya masing-masing.
 

Tujuan dari pengelompokan kelas kata ini, tentunya memudahkan kita dalam mempelajari ikhwal kata. Sangatlah tidak mungkin, apabila dalam mempelajari suatu bahasa kita harus menghafalkan kata demi kata tanpa adanya suatu pengelompokan kata. Kita mengetahui banyak sekali kata yang terdapat dalam bahasa Indonesia. Kata yang di mulai dari A sampai Z yang luar biasa banyaknya. Maka dari itu, banyak pakar-pakar bahasa membuat kelas-kelas kata bahasa Indonesia.

Ilmu bahasa yang mempelajari tentang kalimat berdasar pada pengelompokan kata. Karena tidak mungkin kita membahas langsung tentang kalimat tanpa mempelajari tentang kata. Rangkaian kata akan membentuk suatu kalimat, dalam kata kalimat menjadi lebih sempurna karena terdapat unsur Subjek, Predikat, Objek, Pelengkap dan juga Keterangan yang menempati posisinya masing-masing.

Kelas kata terus dikaji guna menambah pengklasifikasian kata yang cocok dalam suatu tataran jenis kata. Bermacam-macam kata sudah dikelompokan pada jenisnya masing-masing. Ada beberapa kelas kata yang sudah sangat familiar ditelinga kita diantaranya kata kerja, kata benda, kata sifat, kata keterangan dan lain sebagainya.

Sebelum membahas satu per satu kelas kata yang ada, alangkah baiknya kita mengetahui fungsi dari kelas kata. Beberapa fungsi dari kelas kata, yaitu:

Ø Melambangkan pikiran atau gagasan yang abstrak menjadi konkrit

Ø Membentuk bermacam-macam struktur kalimat

Ø Memperjelas makna gagasan kalimat

Ø Membentuk satuan makna sebuah frasa, klausa, atau kalimat

Ø Membentuk gaya pengungkapan sehingga menghasilkan karangan yang dapat dipahami dan dinikmati oleh orang lain

Ø Mengungkapkan berbagai jenius ekspresi (berita, perintah, penjelasan, argumentasi, pidato, dan diskusi)

Ø Mengungkapkan berbagai sikap (setuju, menolak, dan menerima)

Tidak semua kelas kata akan di bahas dalam artikel ini, hanya beberapa kelas kata yang memiliki kedudukan penting dalam bahasa dan juga banyak dipakai dalam penyusunan suatu kalimat. Kelas kata yang akan di bahas disini yaitu, kata kerja, kata sifat, kata benda, kata ganti, kata bilangan, kata keterangan, introgrativa, demonstrativa, artikula, preposisi, konjungsi, dan interjeksi. Simaklah uraian tentang jenis kelas kata berikut.

1. Kata Kerja

Verba atau yang sering kita sebut dengan kata kerja merupakan penggolongan kata yang termasuk kata kerja. Kata kerja disini mencerminkan suatu tindakan atau perbuatan yang dilakukan dalam suatu kalimat.

Berdasarkan ciri morfologisnya, kata kerja dalam bahasa Indonesia dibedakan menjadi empat kategori yakni:

a. Verba dasar

Verba dasar merupakan verba yang tidak mengandung unsur afiksasi. Maksud dari afiksasi yakni imbuhan, jadi verba dasar pengertian lainnya adalah kata kerja yang tidak berimbuhan, baik prefiks, infiks, dan sufiks. Contoh dari verba dasar yakni makan, mandi, minum, dan lain sebagainya.

b. Verba berafiks

Verba berafiks adalah kata kerja yang memiliki imbuhan baik prefiks (kata depan), infiks (sisipan), maupun sufiks (akhiran). Contohnya adalah makan + infiks (–me) menjadi memakan.

c. Verba reduplikasi

Verba reduplikasi merupakan kata kerja yang memiliki sifat pengulangan pada kata kerjanya. Contoh dari verba reduplikasi adalah berjalan-jalan, makan-makan dan lain sebagainya.

d. Verba bentuk majemuk.

Kata kerja yang merupakan bentuk majemuk misalnya naik haji, cuci muka, dan lain sebagainya.

2. Kata sifat

Kata sifat atau disebut juga dengan adjektiva yakni suatu kata yang mencerminkan suatu sifat tertentu. Untuk mengidentifikasi kata sifat dapat kita kenali dengan mendampingi kata ‘lebih’, ‘paling’, ‘agak’, ‘sangat’. Sebagai contoh kita pilih kata sifat ‘cantik’ kata ‘cantik’ dapat disandingkan dengan ‘lebih cantik’, ‘paling cantik’, ‘agak cantik’, ‘sangat cantik’. Namun tak bisa jika kata sandingan tersebut digunakan pada kata ‘sangat mandi’ atau ‘agak makan’. Kata-kta tersebut berkolokasi dengan kata sifat. Ciri lain dari kata sifat yakni dapat dinegasikan dengan kata ‘tidak’.

Dari segi bentuknya kata sifat terbagi atas beberapa jenis antara lain:

a) Kata sifat dasar

Kata sifat dasar yakni kata sifat yang masih murni kata sifat tanpa dipengaruhi oleh adanya afiksasi. Contohnya adalah ‘baik’, ‘manis’.

b) Kata sifat turunan

Merupakan kata sifat yang memiliki sifat turunan dari kata sifat dasar. Contohnya ‘alami’, ‘gerejawi’

c) Kata sifat gabungan

Kata sifat gabungan adalah kata sifat yang memiliki dua bentuk kata sifat yang digunakan sekaligus (perpaduan dua kata sifat). Contohnya: ‘aman sentausa’, ‘cantik jelita’.

Kata sifat gabungan atau perpaduan juga dibedakan menjadi dua yakni perpaduan yang sifatnya subkordinatif misalnya ‘panjang tangan’. Dan koordinatif seperti yang telah disebutkan tadi ‘aman sentausa’.

3. Kata benda

Kata benda atau lazim kita menyebutnya nomina adalah semua kata yang dapat diterangkan dengan penambahan yang + kata sifat.(Keraf: 1991:58) Sebagai contoh ‘rumah yang bagus’. Kata benda tidak bisa disandingkan dengan partikel ‘tidak’, namun kata benda dapat diawali dengan kata ‘bukan’, ‘dari’. Dan perlu diingat bahwa kata benda/nomina dalam kalimat biasannya menduduki fungsi Subjek dan dapat pula menduduki fungsi Objek.

Kata benda dikelompokan menjadi dua jenis pengklasifikasian yakni, kata benda dasar dan kata benda yang berimbuhan. Kata benda dasar sama halnya dengan kelas kata yang lain, kata benda dasar pada hakikatnya merupakan sebuah kata benda murni yang belum mendapatkan imbuhan apapun. Sebaliknya kata benda turunan merupakan sebuah kata benda yang telah mengalami proses afiksasi atau pengimbuhan (jalanan, perjalanan, kejalan, perjalan,), kata benda yang merupakan reduplikasi (pisau-pisau, buku-buku, kursi-kursi), dan kata benda yang merupakan kata benda majemuk (sapu tangan).

4. Kata Ganti

Kata ganti atau pronomina adalah sebuah kata yang menggantikan kata benda agar kalimat menjadi lebih efektif tanpa adanya pengulangan kata yang sama atau yang tidak perlu.kata ganti dibagi menjadi tiga jenis, yakni:

a) Kata ganti persona pertama ‘aku, saya, -ku, daku’, dan persona yang lebih dari satu ‘kita, kami, kamu, kalian, mereka’

b) Kata ganti yang menggantikan petunjuk ‘itu, ini, sana, sini’.

c) Kata ganti penanya ‘kenapa, bagaimana’


5. Kata Bilangan

Kata bilangan atau yang sring dikenal dengan numeralia, merupakan suatu kata yang digunakan untuk menghitung sesuatu yang melambangkan nomor, urutan atau himpunan. Kata bilangan dibedalkan menjadi kata bilangan kardinal dan kata bilangan ordinal.

Kata bilangan kardinal digunakan untuk menjawab pertanyaan berapa dan kata bilangan ordinal digunakan untuk menjawab pertanyaan yang keberapa. Kata bilangan kardinal juga dibagi ke dalam beberapa jenis, yakni, kata bilangan kardinal tentu merupakan kata bilangan yang sudah pasti dan diketahui. Contohnya ‘satu, dua, tiga’. Kata bilangan kardinal kolektif ‘kedua, kedelapan, bertiga, bertujuh’. Kata bilangan kardinal distributif ‘ setiap, satu-satu, masing-masing’. Kata bilangan tak tentu ‘semua, seluruh’.

6. Kata Keterangan

Kata keterangan atau adverbia merupakan kata yang berfungsi memberi penjelasan pada kata yang lain. Bentuk adverbia menurut Kunjana dibedakan menjadi dua macam yakni adverbia monpomorfemis dan adverbia polimorfemis. Adverbia monomofemis terdiri hanya satu morfem atau hanya terdiri dari satu bentuk seperti ‘ sangat, hanya, segera, agak, akan’. Adverbia polimorfemis merupakan adverbia memiliki lebih dari satu jenis ‘belum tentu, mau tidak mau, jangan-jangan, lebih-lebih, mula-mula, tidak mungkin, sungguh-sungguh, pada mulanya, benar-benar’.

7. Introgrativa

Introgrativa atau kata tanya merupakan kata yang berfungsi untuk membantu suatu kalimat dalam memperoleh suatu informasi dari orang yang ingin diperoleh sebuah informasi. Atau kata yang digunakan untuk menanyakan sesuatu. Misalnya siapa, apa, kapan, megapa, bagaimana, mana, berapa, yang mana.

Kata tanya tersebut berfungsi untuk menanyakan sesuatu bisa saja digunakan untuk menanyakan benda, orang, keadaan, suatu perihal, atau suatu pilihan. Kata tanya bisa juga disandingkan dengan kata depan. Misalnya dari apa, untuk apa, dengan siapa, kepada siapa, ke mana, buat apa, dan lain sebagainya.

8. Demonstrativa

Demonstrativa atau akata penunjuk merupakan sebuah kata yang berfungsi untuk menunjukan sesuatu. Misalnya ini, itu, berikut, sana, situ, begitu.

9. Artikula

Artikula atau yang dalam bahasa Indonesia disebut kata sandang merupakan sebuah kata yang berfungsi membatasi makna kata benda. Dalam bahasa Indonesia kata sandang sangatlah sedikit jumlahnya. Namun dapat dikelompokan dalam kata sandang yang menunjuk pada gelar tertentu misalnya ‘sri, sang’. Kata sandang yang merujuk kelompok misalnya ‘para, kaum, umat’. Ada juga kata sandang ‘si’ yang ditulis didepan nama diri, nama sifat. Misalnya ‘ Si Heri, Si manis’.

10. Preposisi

Preposisi atau kata depan merupakan kata yang dipakai di depan sebuah kata dalam kalimat. Biasanya preposisi digunakan pada kata benda, kata keterangan dan kata sifat. Kata depan terbagi atas beberapa jenis yakni, kata depan yang sifatnya dasar seperti ‘di, ke, pada, dari, dan demi’. Kata depan yang sifatnya turunan seperti ‘di bawah, ke atas, ke dalam’ kata depan yang berafiks seperti ‘beserta, sepanjang, melalui, seluruh, bagaikan, beserta’.

11. Konjungsi

Konjungsi atau kata hubung meruopakan kata yang berfungsi untuk menghubungkan kata dengan kata yang lainnya. Menurut fungsinya konjungsi terbagi atas konjungsi kordinatif, konjungsi subkordinatif dan konjungsi korelatif.

Konjungsi kordinatif merupakan kata hubung yang bertugas menghubungkan satuan kebahasaan yang sejajar, sebagai contoh misalnya kata ‘dan , maka, tetapi, melainkan, sedangkan’.

Konjungsi subkordinatif merupakan kata hubung yang berfungsi menghubungkan suatu kalimat yang tidak sejajar (induk kalimat dan lainnya anak kalimat). Contohnya ‘karena, jika, sebab, sehingga’.

Konjungsi korelatif merupakan kata hubung yang harus ada konjungsi lain karena bentuk suatu kalimat yang memakai konjungsi ini sifatnya korelatif. Contoh konjungsinya ‘antara...dan’, ‘baik...maupun’.

12. Interjeksi

Interjeksi atau kata seru memiliki tugas dalam mengungkapkan perasaan. Interjeksi tidak memeiliki hubungan dengan unsur lain dalam kalimat. Contoh dari interjeksi yakni, ‘astagfirullah, masyaallah, asyik, aduhai, aduh, idih, ah oh, wah, hah, hai, o, dan lain sebagainya.

Itulah kelas kata yang biasa kita pakai dengan bahasa tulis maupun bahasa lisan. Kelas kata dalam bahasa Indonesia yang membuat pembelajaran bahasa semakin mudah kita pelajari. Semoga bermanfaat.

Daftar Pustaka
Kuncana, Rahardi. 2009. Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi. Jakarta: Erlangga

Silahkan masukan e-mail Anda sekarang, untuk mendapatkan update artikel terbaru (Gratis!):

Delivered by FeedBurner

0 Response to "KELAS KATA"

Post a Comment

Terimakasih sudah bersedia berkunjung. Semoga bermanfaat. Silahkan tulis komentar anda di papan komentar. Komentar anda sangat bermanfaat untuk kemajuan artikel-artikel selanjutnya.